"Perubahan
lewat disiplin, kerja keras dan bukti nyata. Perubahan dengan nurani,
pembangunan berlandaskan budaya”
Slogan
diatas mencerminkan perjalanan hidup, pengalaman dan etos kerja yang dimiliki
seorang JR Saragih.
Jopinus
Ramli Saragih atau dikenal dengan JR Saragih melewatkan masa kecil dengan tidak
mudah. Pada tahun 1969, saat masih belum genap berumur 1 tahun,
ayahandanya meninggal dunia. Usia yang
seharusnya dihabiskan dengan merasakan kasih sayang orangtua. Kemudian JR
Saragih dititipkan kepada neneknya yaitu (alm) Tapi br.Purba (Ibunda Rasen
Saragih) yang tinggal di Kecamatan Raya, Kabupaten Simalungun. Kasih sayang seorang nenek ia rasakan hingga
ia mengenyam pendidikan kelas IV sekolah dasar. Ia pun memutuskan meninggalkan
Raya, bertekad melanjutkan sekolah di Kutabaru, Kecamatan Munthe, Kabupaten
Tanah Karo. Pendidikan kemudian ia lanjutka di Kutabaru.
Sejak
kecil, kerja keras sudah melekat pada dirinya. Tempaan hidup dan kenyataan yang
ia hadapi, mengharuskan JR Saragih memenuhi kebutuhan hidup dengan berdikari.
Namun ia tidak menyerah. Ia sadar, pendidikan adalah kunci untuk perubahan masa
depan. Hal inilah yang kemudian melatarbelakangi di kemudian hari, untuk berbisnis di bidang
pendidikan. Ia yakin, nasib akan diubah oleh diri sendiri, salah satunya dengan
mengenyam pendidikan yang baik.
Pada
usia yang masih belia, JR Saragih secara mandiri mencari biaya pendidikan tanpa
kenal menyerah, meski ia saat itu harus bekerja serabutan. Menyemir sepatu, menjadi kernet bus Simas dan
Sepadan ia jalani dengan keteguhan hati. Dorongan kuat untuk mengubah nasib,
menjadikan JR Saragih muda tanpa malu mencari sepeser uang, untuk kehidupan
sehari-hari serta biaya pendidikan.
Pada
tahun 1984 J.R.Saragih berhasil menamatkan pendidikan SMP dari sekolahnya di
Kutambaru , Kecamatan Munthe,Kabupaten Tanah Karo. Ia pun memutuskan untuk J
merantau ke Jakarta , untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi di
tahun 1984.
Di
Ibukota, J.R.Saragih tinggal di rumah abangnya yang tertua selama 6 bulan.
Kemandirian yang telah tertanam sejak belia, menjadikan JR Saragih mengambil
keputusan untuk hidup mandiri. Ia pun
untuk memilih kos di Jakarta dan melanjutkan pendidikan ke SMA-1 Prasasti di
bilangan Kemayoran , Jakarta Pusat.
Lagi-lagi,
untuk mencukupi kebutuhan dan biaya sekolahnya J.R.Saragih bekerja serabutan.
Pekerjaan sebagai buruh galian pasir pernah ia lakoni sepulang sekolah. Siapa sangka, pekerjaan ini yang kemudian
menjadi salah satu langkah penting dalam perjalanan karirnya di bidang militer.
Saat
itu JR Saragih bekerja sebagai buruh galian pasir milik Puskopad (Pusat
Koperasi Angkatan Darat). Beberapa lama bekerja memeras keringat dengan
menambang pasir, JR Saragih mendapat tawaran bekerja paruh waktu di Pusat
Primer Koperasi Mabes TNI AD. Tawaran ini, ternyata menjadi titik balik
kehidupan JR Saragih. Kegigihan, sikap
pantang menyerah dan kerja keras yang ia tunjukkan menjadikan banyak petinggi
TNI AD yang simpatik atas kegigihannya tetap bersekolah dengan menjalani
berbagai pekerjaan kasar.
KARIR
MILITER J.R. SARAGIH
Persinggungan
dengan orang-orang di institusi militer (TNI) Puskopad, memuluskan jalan untuk terpilih sebagai atlet menembak.
Prestasi inilah yang lantas memuluskan
karirnya untuk terjun dan berkiprah di dunia militer. Tekad semakin bulat,
disertai keyakinan, bahwa militer adalah pilihan dan jalan hidupnya.
Lulus
dari SMA-1 Prasasti,Jakarta Pusat, J.R.Saragih memutuskan mencoba peruntungan
dengan mengikuti tes Akademi Militer.
Buah kerja kerasnya tidak sia-sia. Ia diterima sebagai taruna di kampus
Akademi Militer (Akmil) di lembah Tidar, Magelang,Jawa Tengah yang dibiayai
oleh negara.
J.R.Saragih
menempuh pendidikan di Akmil Magelang dan menamatkan pendidikan militernya pada
tahun1990-an. Ia juga memperoleh
beasiswa di Akademi Beasiswa dari Akmil.
Selama
setahun, kedisiplinan dan keberanian yang identik dengan seorang personil
militer kian menempa pribadi J.R.Saragih di Akademi Militer Magelang. Secara
langsung, pendidikan yang ia jalani kian menempa pribadi seorang JR Saragih.
Dari pendidikan militer di kawasan Lembah Tidar (Kampus AMN), JR Saragih
berhasil membawa pulang pangkat Letnan Dua TNI Angkatan Darat. Berikutnya, ia
masuk pendidikan lanjutan ke kampus. Selepas pendidikan selesai, J.R.Saragih
langsung bertugas di lingkungan Polisi Militer Angkatan Darat (POMAD). Ia
ditugaskan komandannya sebagai Dansubdenpom/Purwakarta, Jawa Barat.
Karirnya
kian cemerlang dengan dipercaya sebagai Dandenpomjuga menjadi salah seorang
personel elite Pasukan Pengaman Presiden (Paspampres).
Pada
tahun 2000 silam J.R.Saragih sebagai prajurit muda memperoleh amanah baru. ia
ditugaskan segagai Komandan Sub Detasemen Polisi Militer (Dansubdenpom) di
Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat (Jabar). Satu titik perjalanan dalam
hidupnya inilah, yang kemudian memuluskan jalan lain untuk membuka pintu lebih
lebar dalam kehidupan JR Saragih, anak desa yang tak kenal menyerah atas takdir
dan kenyataan hidup.
Kehidupan
keras yang ia alami, menjadikan JR Saragih mudah terketuk hatinya atas
penderitaan orang lain. Khususnya mereka yang tidak berpunya. Pada satu
kesempatan J.R.Saragih bertamu ke pendopo kabupaten dan berbincang akrab dengan
Bupati Purwakarta saat itu Bunyamin Dudih ,S.H. . J.R.Saragih memperkenalkan
diri seraya menjelaskan , bahwa hatinya terketuk untuk ikut membantu kesulitan
warga Purwakarta dalam mendapatkan pelayanan kesehatan. Ia ingin memberikan
andil secara nyata, yaitu dengan
memberikan pelayanan kesehatan yang terjangkau pada mereka.
Ide
cemerlang prajurit muda J.R.Saragih tersebut disambut baik petinggi Pemerintah
Daerah di Purwakarta . Gaji J.R.Saragih di TNI dijadikan modal untuk usaha
memulai usaha klinik kesehatan. Keberanian dan intuisi yang ia miliki,
menjadikan usaha di bidang kesehatan berkembang. Secara bertahap ia bisa membeli tanah seluas
770 meter persegi untuk mengembangkan klinik. Niatan awal hanya untuk
membantu warga masyarakat Purwakarta,
ternyata berkembang tanpa diduga. Inilah fondasi awal J.R.Saragih fokus untuk
terjun menekuni bisnis di sektor kesehatan.
Berdirinya
Rumah Sakit Efarina (Etaham) yang berada di Jalan Bungur Nomor 1 Purwakarta,
adalah cikal bakal perkembangan bisnisnya yang bermula dari sebuah klinik kecil
di tahun 2000. Keseriusan, visi dan misi yang ia miliki tak sia-sia. Tahun
2008, RS Efarina Etaham yang berawal dari klinik kecil, memperoleh akreditasi
RS tipe A dengan total karyawan berjumlah sekitar 300 orang, 120 orang di
antaranya adalah dokter.
Bulan
Desember 2001 menjadi tanggal penting
bagi kehidupan JR Saragih. Ia berkenalan dengan dr.Erunita Anggraini br.
Tarigan Girsang, Sp.K.K. (putri dari pasangan Prof.dr.Pangarapan Tarigan,Sp.PD.
dan Rehna Ginting). Setelah menemukan banyak kecocokan dalam beberapa kali
pertemuan, keduanya memutuskan untuk menikah tepatnya pada Juni 2002. Setahun berselang, tepatnya pada 16 Juli
2003, pasangan J.R.Saragih dan Erunita Anggraini Tarigan dikaruniai seorang
putri yang diberi nama Efarina
Margaretha Saragih. Memiliki pasangan seorang dokter, adalah seperti botol
bertemu tutup. Tak hanya mendapatkan pasangan hidup, ia pun mendapatkan partner
yang tepat untuk berdiskusi dalam mengembangkan bisnis di bidang kesehatan.
Terbukti
dengan lahirnya Akademi Keperawatan Efarina Etaham yang juga berada di
Kabupaten Purwakarta. Tujuannya adalah untuk mendorong percepatan pemenuhan
kebutuhan tenaga perawat. Khususnya untuk RS Efarina Etaham ataupun rumah sakit
lain. Keyakinan bahwa pendidikan menjadi
kunci utama bagi perubahan diwujudkan secara nyata dengan mendirikan Sekolah
Menengah Kejuruan (SMK) Kesehatan pada tahun 2011. Inilah bukti nyata pandangan
jauh ke depan seorang JR Saragih, yang memiliki perhatian khusus kepada bidang
pendidikan.
Intuisi
bisnis JR Saragih juga menjadikan RS Efarina Etaham Purwakarta menjadi menjalin
kerja sama dengan PT Jamsostek (Persero) di tahun 2011. RS Efarina Etaham
meluncurkan produk pelayanan kesehatan berupa paviliun khusus bagi peserta
Jamsostek yang diberi nama Trauma Center Jamsostek. Dengan jalinan kerja sama
ini, perusahaan atau keluarga pasien tidak perlu mengeluarkan biaya pelayanan
kesehatan
KARIR
POLITIK
Sebagai
seorang pelaku usaha, tentunya secara materi ia tidaklah kurang. Bukti nyata
kerja keras dan pantang menyerah, berbanding terbalik dengan kehidupan yang ia
jalani saat kanak-kanak dan juga remaja. Meski usahanya berkembang di tanah
Parahiyangan, kegelisahan sebagai seorang putera asli Sumatera Utara kian kerap
mengetuk hati dan nuraninya.
Pembangunan
tanah Jawa yang ia saksikan demikian pesat, tidak selaras dengan perkembangan
yang ia lihat di tanah kelahirannya. Nuraninya merasa terpanggil untuk membangun tanah kelahiran, ikatan emosional
yang tidak akan pernah pudar meski ia sudah berkelana ke bumi Pasundan.
Simalungun, tempat ia ditempa menjadi pribadi tangguh saat kecil, dengan budaya
dan karakteristik Sumatera Utara yang dikenal tangguh dan pekerja keras. Ia
ingin kembali, mengabdi dan berbakti ke tanah kelahiran yang ia cintai. Tanah
kelahiran yang ia kenal dengan budaya yang demikian kaya, dan menjadi memori
masa kanak-kanak dan akan terus terpatri dalam diri JR Saragih.
Darah
dan nafasnya, seiring perjalanan merantau ke belahan lain nusantara, adalah
tetap di tanah kelahirannya yang telah memberikan kesempatan untuk menghirup
nafas, sekaligus memberi pondasi awal pada makna kerja keras dan kedisiplinan.
Hal itulah yang mendorong dirinya bertarung di tahun 2010 dengan maju ke arena
pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kabupaten Simalungun, dipasangkan dengan
Hj.Nurhayaty Damanik. dan akhirnya
terpilih menjadi Bupati Simalungun periode 2010-2015.

No comments:
Post a Comment